Rabu, Agustus 11, 2010

Nenek 70 Tahun Lahirkan Bayi Kembar

Rabu, 11 Agustus 2010
Padahal, wanita umumnya kehilangan masa subur atau menopause di usia senja.
VIVAnews - Mendengar wanita usia 70 tahun melahirkan rasanya mustahil. Selain umumnya telah kehilangan masa subur atau menopause, wanita usia lanjut juga berisiko tinggi mengalami kematian saat melahirkan. Tapi nyatanya, itu menimpa Omkari Panwar dan Rajo Devi Lohan.

Dua wanita asal India itu berhasil melalui proses persalinan dengan selamat di usianya yang telah menyentuh angka 70 tahun. Mereka hamil melalui program bayi tabung.

Seperti dikutip dari laman Daily Mail, Panwar sengaja menjual ternak, menggadaikan sawah, berutang, dan menghabiskan seluruh uang tabungan demi mendapatkan anak laki-laki sebagai pewaris keluarga. Padahal kala itu, ia sudah memiliki lima cucu dari dua anak perempuannya.

Namun, segala pengorbanannya terbayar dengan kelahiran anak kembar dampit, laki-laki dan perempuan, pada 2008 silam. Ia menjalani persalinan melalui operasi caesar di Muzaffarnagar. "Saya bukan dalam rangka mencari sensasi menjadi wanita hamil tertua di dunia," kata wanita yang berjuang agar dapat memberikan ASI eksklusif selama tiga tahun.

Sedangkan laman Guardian mengungkap perjuangan Lohan memiliki anak. Tepat di usia 70 tahun Lohan akhirnya berhasil memiliki keturunan dari rahimnya pada 2009. "Saya menunggu selama 40 tahun untuk mendapatkan keturunan," ujarnya. "Sungguh hadiah dari Tuhan.

Rajo Devi Lohan bersama suami dan bayinya
Lohan bersama suami dan anak (Guardian)

Nisha Malik, seorang ginekolog yang membantu persalinan Panwar mengatakan kasus semacam itu sangat langka. "Saya saja terperangah saat Panwar mengatakan bahwa dirinya hamil karena selama berkarier di dunia kedokteran belum pernah mendengat kasus semacam itu.
Source : http://kosmo.vivanews.com/news/read/165875-nenek-70-tahun-lahirkan-bayi-kembar

Kedaulatan Informasi

Rabu, 11 Agustus 2010
Saya menyukai artikel ini makanya ikut saya share di blog saya ini...dan terima kasih buat yang punya artikel.
Dunia kini telah memasuki abad informasi. Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan seberapa jauh kita dapat survive di era ini ditentukan dari seberapa cepat kita dapat menyerap banjir informasi yang ada. Dapat pula dikatakan bahwa siapa yang akan menjadi pemimpin baik di dalam komunitas maupun di dalam persaingan adalah mereka yang memiliki perbendaharaan informasi paling banyak.
Sejak 1927 majalah TIME menampilkan tokoh-tokoh dunia dalam Person Of The Year-nya. Beberapa nama yang sempat muncul adalah tokoh-tokoh seperti Martin Luther King, Jr (1964), Ayatollah Khomeini (1979), sampai Bono, Bill, dan Melinda Gates (2005). Tapi, pada tahun 2006 majalah TIME yang semestinya menampilkan seorang tokoh tidak memajang foto siapa pun sebagai Person Of The Year-nya. Pada sampul halaman depannya terpajang gambar komputer dengan bertuliskan “YOU” pada monitornya.
“YOU”. Anda. Kita semua adalah orang-orang yang layak dinobatkan sebagai person of the year. Bukannya artis, selebritis, aktivis, atau presiden. Publik, khalayak, rakyat, komunitas, masyarakat, orang-orang kebanyakan kini dapat beralih dari orang yang biasa-biasa menjadi orang-orang penting. Semenjak abad informasi publik bukan lagi khalayak yang mengambang, kosong, dan tidak mengerti apa-apa. Publik semestinya menjadi pemilik kuasa, kekuatan, dan kedaulatan itu sendiri.
Para futurolog seperti Alvin Toeffler, John C Naisbitt, sampai Francis Fukuyama semenjak tahun ‘80-an telah meramalkan transformasi masyarakat dunia dari masyarakat industri menjadi masyarakat informasi. Janji dari wacana masyarakat informasi adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat sebab distribusi informasi di dalam masyarakat tersebar secara merata.
Kita ketahui dalam ilmu ekonomi distribusi informasi merupakan salah satu faktor yang menentukan efisiensi pasar. Selain itu dalam masyarakat Informasi akan terjadi demokratisasi. Hal ini juga merupakan harapan akan peningkatan-peningkatan good governance dalam skala makro maupun mikro yang juga mendukung penciptaan kesejahteraan.
Distribusi Informasi untuk Kesejahteraan
Hasil regresi data dari berbagai negara oleh Bank Dunia menunjukkan hubungan antara akumulasi pengetahuan yang diwakili indeks ekonomi pengetahuan (IEP) dan GDP per kapita. Kurvanya berbentuk eksponensial. Itu menjelaskan pertambahan akumulasi pengetahuan di sebuah negara akan menyebabkan GDP per kapita naik sangat cepat. Masyarakat informasi menjanjikan harapan keluarnya masyarakat dari kemiskinan dan kesengsaraan.
Chan dan Dalman mengumpulkan data-data menarik seputar kaitan antara peningkatan kualitas sumber daya manusia suatu negara yang salah satu faktornya dipengaruhi oleh menyebarnya informasi. Bila jumlah artikel pada jurnal internasional naik 1% akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi 0,22%. Dalam hal sarana teknologi informasi dan komunikasi. Bila jumlah komputer yang tersedia bertambah 100% pertumbuhan ekonomi akan meningkat 0,54%.
Peningkatan jumlah pengguna internet menjadi dua kali lipat akan meningkatkan 0,27% pertumbuhan ekonomi. Selain itu bila jumlah telepon ditambah 100% pertumbuhan ekonomi akan naik 0,55%. Tak heran jika seluruh dunia berupaya mengejar ketertinggalan teknologi lewat proyek-proyek digitalisasi seperti e-government, e-learning, e-banking, segala macam e-revolution agar akses informasi semakin mudah sehingga kesejahteraan semakin berkembang.
Kedaulatan informasi belum tentu tercapai secara sempurna dari sebab adanya pemerataan distribusi informasi. Kedaulatan informasi bisa terkendala oleh berhentinya khalayak sebagai konsumen informasi semata. Masyarakat tidak memperoleh benefit lebih yang semestinya dari informasi yaitu mengartikulasikan dan mengelaborasikannya menjadi “knowledge” lalu metransformasikan menjadi kesejahteraan sosial sebab mereka berhenti pada tahap konsumsi informasi semata.
Belum lagi ditambah tingkah polah para politisi dan kapitalis yang menguasai sumber daya informasi yang mengaturnya demi kepentingan politik dan bisnis semata. Hal-hal yang terakhir ini berpotensi menyeret masyarakat pada konsumsi informasi yang tidak bernilai tambah seperti pornografi, gossip, isu-isu sara yang memecah belah dan sebagainya.
Informasi Menjadi Knowledge
Informasi sendiri erat kaitannya dengan pengetahuan (knowledge). Shannon mengatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang membuat pengetahuan kita berubah yang secara logis mensahkan perubahan. Memperkuat atau menemukan hubungan yang ada pada pengetahuan yang kita miliki.
Menurut Drucker, di era ‘knowledge society’ pengetahuan bukan semata sebagai salah satu sumber daya (a resource) bersama faktor-faktor produksi tradisional lain seperti buruh, tanah, dan modal. Melainkan satu-satunya sumber daya (the only resource). Toffler menyebut pengetahuan sebagai pengganti seluruh sumber daya dan merupakan sumber kekuasaan tertinggi dan kunci bagi pergeseran kekuasaan (power-shift).
Quinn menekankan bahwa kekuatan sebuah perusahaan tidak lagi terletak pada aset-aset kasat mata. Melainkan pada yang non-kasat mata (knowledge-based intangibles), karenanya kemampuan mengelola aset non-kasat mata ini merupakan keahlian yang sangat dibutuhkan oleh para eksekutif di era ini.
Sudah saatnya masyarakat Indonesia jika ingin survive di abad informasi ini harus beralih dari Knowledge Consumer kepada Knowledge Producer. Menciptakan knowledge menjadi penting untuk menghalau segala kemungkinan inefisiensi yang terjadi akibat beredarnya informasi-informasi yang tidak bernilai tambah.
Penciptaan Knowledge untuk Berinovasi
Penciptaan knowledge juga erat kaitannya dengan inovasi. Inovasi adalah harga yang harus dibayar untuk bisa bertahan menghadapi persaingan. Indonesia yang telah terlanjur memasuki AC-FTA dan menghadapi gerbang globalisasi perdagangan yang semakin terbuka harus mendorong budaya berinovasi demi bertahan dalam persaingan dan selanjutnya menjadi pemimpin persaingan.
Inovasi bukan hanya milik negara maju. Inovasi adalah senjata bagi negara berkembang untuk mengakali keterbatasan. Ketajaman dan frekuensi inovasi berbanding lurus dengan penciptaan knowledge. Semakin banyak penciptaan pengetahuan baru semakin tajam kehandalan berinovasi.
Penciptaan knowledge harus memperhatikan beberapa aspek. Isu yang marak belakangan ini adalah duplikasi atau pun plagiarisme dalam menciptakan karya akademis sebagai salah satu bentuk knowledge creation. Dunia akademis jangan sampai dibiarkan tercoreng oleh sarjana-sarhana palsu yang karyanya adalah hasil plagiat. Untuk meghindari itu harus dibangun adanya kejujuran dan niat yang tulus dalam menuntut ilmu.
Sistem pendidikan sedikit banyak berperan dalam membentuk watak peserta didik bangsa yang memiliki kesadaran akan jiwa pembelajar yang tulus dan memiliki itikad kontribusi bagi bangsa. Bukan itikad untuk semata mecari keuntungan pragmatis.
Citizen journalism yang saat ini berkembang terutama berkat adanya web 2.0 merupakan tren yang positif untuk mengembangkan kultur knowledge production. Hal ini selain harus dipagari dari hal-hal yang tidak mendatangkan nilai tambah seperti isu SARA yang memcah belah, pornografi, gosip, kekerasan, dan lain sebagainya juga harus distimulus melalui penciptaan sarana dan prasarana oleh Kementrian Kominfo.
Abad informasi yang menuntun pada akses informasi yang merata membawa pada kedaulatan informasi di tangan khalayak. Akses informasi yang merata belum cukup untuk mendatangkan kesejahteraan sosial jika masyarakat hanya bertindak sebagai konsumen informasi. Terlebih jika informasi yang diakses adalah informasi yang tidak bernilai tambah. Masyarakat harus mentransformasikan informasi menjadi knowledge. Selanjutnya menjadi pencipta knowledge. Penciptaan knowledge berkaitan dengan kultur inovasi yang sangat diperlukan untuk menghadapi persaingan.
Oleh :
TOTO SUDARMONGI
|  9 Agustus 2010  |  13:50
Source : http://teknologi.kompasiana.com/group/internet/2010/08/09/kedaulatan-informasi/

Kisah Kehidupan

 Rabu, 11 Agustus 2010

Aku Menangis untuk Adikku Enam Kali

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

----------

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!" "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

[Diterjemahkan dari "I cried for my brother six times"]

Source : http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=342

Catatan harian seorang ayah

 Rabu, 11 Agustus 2010

Hari ini engkau terlahir ke dunia, anakku. Meski tidak seperti harapanku bertahun- tahun merindukan kehadiran seorang anak laki-laki,

source: milist DT

Medan, 15 Juni 1975

Hari ini engkau terlahir ke dunia, anakku. Meski tidak seperti harapanku bertahun- tahun merindukan kehadiran seorang anak laki-laki, aku tetap bersyukur engkau lahir dengan selamat setelah melalui jalan divakum. Telah kupersiapkan sebuah nama untukmu; Qaulan Syadida.Aku sangat terkesan dengan janji Allah dalam surat Al Ahzab ayat tujuh puluh, maknanya perkataan yang benar. Harapanku engkau kelak menjadi seorang yang kaya iman dan memperoleh telah dijanjikan Allah dalam Al-Quran. Sungguh kelahiranmu telah mengajarkanku makna bersyukur...

1981

Tahun ini engkau memasuki sekolah dasar. Usiamu belum genap enam tahun. Tetapi engkau terus merengek minta disekolahkan seperti saudarimu. Engkau berbeda dari keempat kakakmu terdahulu. Bagaimana engkau dengan gagah tanpa ragu atau malu-malu melangkah memasuki ruang kelasmu. Bahkan engkau tak minta dijemput. Saat ini aku mulai menyadari sifat keberanian yang tumbuh dalam dirimu yang tak kutemukan dalam diri saudarimu yang lain.

1987

Putriku, sungguh aku pantas bangga padamu. Tahun ini engkau ikut Cerdas Cermat tingkat nasional di TVRI. Dengan bangga aku menyaksikan engkau tampil penuh percaya diri di layar kaca dan aku pun bisa berkata pada teman-temanku; itu anakku Qaulan...Meski tidak juara pertama, aku tetap bangga padamu. Namun di balik rasa banggaku padamu selalu terbesit satu kekhawatiran akan sikapmu yang agak aneh dalam pengamatanku. Tidak seperti keempat kakakmu yang kalem dan cenderung memiliki sifat-sifat perempuan, engkau justru sangat angresif, pemberani, agak keras kepala, meski tetap santun padaku dan selalu juara kelas.

Jika hari Ahad tiba, engkau lebih suka membantuku membersihkan taman, mengecat pagar, atau memegangi tangga bila aku memanjat membetulkan bocor. Engkau lebih sering mendampingiku dan bertanya tentang alat-alat pertukangan ketimbang membantu ibumu memasak di dapur seperti saudarimu yang lain. Kebersamaan dan kedekatanmu denganku, membuatku sering meperlakukanmu sebagai anak lelakiku, dengan senang hati aku menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, membekalimu dengan pengatahuan dan permainan untuk anak lelaki. Tak jarang kita berdua pergi memancing atau sekedar menaikkan layang-layang sore hari di lapangan madrasah tempat aku mengajar.

Putriku, sungguh kekhawatiranku berbuah juga. Engkau menolak bersekolah di tsanawiyah seperti saudarimu. Diam-diam tanpa sepengetahuanku engkau telah mendaftar di sebuah SMP negeri. Bukan kepalang kemarahanku. Untunglah ibumu datang membelamu, jika tidak mungkin tangan ini sudah berpindah ke pipimu yang putih mulus. Tegarnya watakmu, bahkan tak setetes airmata jatuh dari kedua matamu yang tajam menatapku. Putriku, jika aku marah padamu semata-mata karena aku khawatir engkau larut dalam pola pergaulan yang tak benar, anakku. Terlebih-lebih saat engkau menolak mengenakan jilbab seperti keempat kakakmu. Betapa sedih dan kecewa hatiku melihatmu, Nak...

1993

Tahun ini engkau menamatkan SMAmu. Engaku tumbuh menjadi gadis cantik, periang, pemberani, dan banyak teman. Temanmu mulai dari tukang kebun sampai tukang becak, wartawan, bahkan menurut ibumu pernah anggota kopassus datang mencarimu. Putriku, disetiap bangun pagiku, aku seolah tak percaya engkau adalah putriku, putri seorang yang sering dipanggil Ustadz, putri seorang kepala madrasah, putri seorang pendiri perguruan Islam...

Putriku, entah mengapa aku merasa seperti kehilanganmu. Sedih rasanya berlama-lama menatapmu dengan potongan rambut hanya berbeda beberapa senti dengan rambutku. Biar praktis dan sehat; berkali-kali itu alasan yang kau kabarkan lewat ibumu. Jika terjadi sesuatu yang tidak baik pada dirimu selama melewati usia remajamu, putriku maka akulah orang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan itu. Aku tidak behasil mendidikmu dengan cara yang Islami. Dalam doa-doa malamku selalu kebermohon pada Rabbul 'Izzati agar engkau dipelihara olehNya ketika lepas dari pengawasan dan pandangan mataku.

Kesedihan makin bertambah takkala diam-diam engkau ikut UMPTN dan lulus di fakultas teknik. Fakultas teknik, putriku? Ya Rabbana, aku tak sanggup membayangkan engkau menuntut ilmu berbaur dengan ratusan anak laki-laki dan bukan satupun mahrommu? Dalam silsilah keluarga kita tidak satupun anak perempuan belajar ilmu teknik, anakku. Keempat kakakmu menimba ilmu di institut agama dan ilmu keguruan. Ya, silsilah keluarga kita adalah keluarga guru, anakku. Engkau kemukakan sejumlah alasan, bahwa Islam juga butuh arsitek, butuh teknokrat, Islam bukan tentang ibadah melulu...Baiklah, aku sudah terlalu lelah menghadapimu, aku terima segala argumen dan pemikiranmu, putriku..Dan aku akan lebih bisa menerima seandainya engau juga mengenakan busana Muslimah saat memulai masa kuliahmu.

1995

Tahun ini tidak akan pernah kulupakan. Akan kucatat baik-baik...Engkau putriku, yang selalu kusebut namamu dalam doa-doaku, kiranya Allah swt mendengar dan mengabulkan pintaku. Ketika engkau pulang dari kuliahmu; Subhannallah! engkau sangat cantik dengan jilbab dan baju panjangmu, aku sampai tidak mengenalimu, putriku. engkau telah berubah, putriku. Apa sesungguhnya yang engkau dapati di luar sana. Bertahun-tahun aku mengajarkan padamu tentang kewajiban Muslimah menutup aurat, tak sekalipun engkau cela perkataanku meski tak sekalipun juga engkau indahkan anjuranku. Dua tahun di bangku kuliah, tiba-tiba engkau mengenakan busana takwa itu? Apa pula yang telah membuatmu begitu mudah menerima kebenaran ini? Putriku, setelah sekian lamanya waktu berlalu, kembali engkau mengajarkan padaku tentang hakikat dan makna bersyukur.

1997

Putriku, kini aku menulis dengan suasana yang lain. Ada begitu banyak asa tersimpan di hatiku melihat perubahan yang terjadi dalam dirimu. Engkau menjadi sangat santun, bahkan terlihat lebih dewasa dari keempat saudarimu yang kini telah berumah tangga semuanya. Kini, hanya engkau aku dan ibumu yang mendiami rumah ini. Kurasakan rumah kita seolah-olah berpendar cahaya setiap saat dilantuni tilawah panjangmu. Gemercik suara air tengah malam menjadi irama yang kuhafal dan pantas kurenungi. Putriku, jika aku pernah merasa bahagia, maka saat paling bahagia yang pernah kurasakan di dunia adalah saat ketika diam-diam aku memergokimu tengah menangis dalam sujud malammu....Selalu kuyakinkan diriku bahwa akulah si pemilik mutiara cahaya hati itu, yaitu engkau putriku...

1998

Putriku, kalau saat ini aku merasa sangat bangga padamu, maka itu amat beralasan. Engkau telah lulus menjadi sarjana dengan predikat cum laude. Keharuan yang menyesak dadaku mengalahkan puluhan tanya ibumu, diantaranya; mengapa engkau tidak punya teman pendamping pria seperti kakak-kakakmu terdahulu? Engkau begitu sederhana, putriku, tanpa polesan apapun seperti lazimnya mereka yang akan berangkat wisuda, semua itu justru membuatku semakin bangga padamu. Entah darimana engkau bisa belajar begitu banyak tentang kebenaran, anakku...Jika hari ini aku meneteskan airmata saat melihatmu dilantik, itu adalah airmata kekaguman melihat kesungguhan, ketegaran, serta prinsip yang engkau pegang teguh. Dalam hal ini akupun mesti belajar darimu, putriku...

1 Agustus 1999

Putriku, bulan ini usiaku memasuki bilangan enampuluh tiga. Aku teringat Rasulullah mengakhiri masa dakwahnya didunia pada usia yang sama. Akhir-akhir ini tubuhku terasa semakin melemah. Penyakit jantung yang kuderita selama bertahun-tahun kemarin mendadak kumat, saat kudapati jawaban diluar dugaan dari keempat saudarimu. Tidak satu pun dari mereka bersedia meneruskan perguruan yang telah kubina selama puluhan tahun. Aku sangat maklum, mereka tentu mempunyai pertimbangan yang lain, yaitu para suami mereka. Sedih hatiku melihat mereka yang telah kudidik sesuai dengan keinginanku kini seolah-oleh bersekutu menjauhiku. Jika aku menulis diatas tempat tidur rumah sakit ini, itu dengan kondisi sangat lemah, putriku. Aku tak tahu pasti kapan Allah memanggilku.

Putriku....kutitipkan buku harianku ini pada ibumu agar diserahkan padamu. Aku percaya padamu...Jika aku memberikan buku ini padamu, itu karena aku ingin engkau mengetahui betapa besar cintaku padamu, mengapa dulu aku sering memarahimu..maafkan buya, putriku... Kini hanya engkau satu-satunya harapanku...Aku percaya perguruan yang telah kubangun dengan tanganku sendiri ini padamu. Aku bercita-cita mengembangkannya menjadi sebuah pesantren. Engkau masih ingat lapangan tempat kita dulu menaikkan layangan? Itu adalah tanah warisan almarhum kakekmu. Di lapangan itulah kurencanakan berdiri bangunan asrama tempat para santri bermukim. Engkau seorang arsitek, anakku, tentu lebih memahami bangunan macam apa yang sesuai untuk kebutuhan sebuah asrama pesantren...Kuserahkan sepenuhnya kepadamu, juga untuk mengelolanya nanti. Sebab aku yakin, dari tanganmu, dari hatimu yang jernih, dari perkataan dan tindakanmu yang selalu sejalan dengan kebenaran akan terlahir sebuah fauzan'adzima, kemenangan yang besar, seperti yang telah Allah janjikan, yakinlah, putriku... Dalam diri dan jiwamu kini terhimpun beragam kapasitas keilmuan dunia dan akhirat. Kini kusadari engkau bukan saja sekedar terlahir dari rahim ibumu, tetapi juga lahir dari rahim bernama Hidayah. Semoga Allah menyertai dan memudahkan jalan yang akan engkau lalui, putriku. Amien Ya Rabbal 'Alamiin.

12 Agustus 1999

Rabbi, jika airmata ini bukan tumpah, bukan karena aku tidak mengikhlaskan buyaku Engkau panggil, tapi sebab aku belum mengenali buyaku selama ini, seutuhnya. Sebab hanya seujung kuku baktiku padanya. Rabbi, perkenankan aku menjalankan amanah Buya dengan segenap radhi-Mu. hanya Engkau..ya Mujib...

Happy Birthday to Buya
I Love you so much
14 September 1999
Take from Annida November-Desember 1999 by Aisyah Shihab

Source : http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=22#isi

Jumat, Juli 16, 2010

Mau cerite Hantu ahh, malam ini kan malam Jum'at..

Cerite ini ne bapak dapat dari kakeknya urang bini bapak. Die ne menceritekan dirinya sendiri yang memang tidak takut kan antu.

Suatu malam sekitar tahun 65 an ketika die balik dari nunton bioskop dengan tenangnya dan sambil bersiul-siul die mengayuh sepedanya menelusuri jalan setapak yang menuju kerumahnya. Rumahnya tidak jauh dari SMP N 4 sekarang ini.

Tak lama kemudian di bawah temaramnya sinar bulan purnama dan sorotan lampu sepedanya dia melihat sekilas bayangan berkelebat menyalib di depan sepedanya. Ah…ini hanya halusinasi saja, pikirnya dalam hati. Tetapi tak lama kemudian bayangan tersebut kembali berkelebat melintas dan menyalib sepedanya. Apa-apaan ini, pikirnya dalam hati. kok berkelebat bolak-balik di depan sepeda ini. Tidak biasanya seperti ini. Toh kalau hanya halusinasi biasanya kan cuma sekali, tetapi ini kok berkali-kali. Dan akhirnya dia berkesimpulan ini mesti hantu.

Betul saja…..beberapa menit kemudian sekitar 10 meter di depannya dia bisa melihat dengan jelas sebuah bayangan berbaju putih berkibar-kibar ditiup angin dengan wajah hitam buruk dan rusak. Tapi dia samasekali tidak takut. Dia lantas turun dari sepedanya dan….......apa yang dia lakukan ? Ya…....yang dia lakukan adalah mengejar hantu tersebut. Bayangkan…betapa beraninya dia. Lantas hantu tersebut berlari meloncat-loncat sambil cekikikan hi..hi..hi..hi..seperti pocong yang biasa kita lihat dalam film. Dia terus mengejar hantu tersebut. Tahu kamu kemana larinya hantu tersebut ? Ya ..kemana lagi, kalau bukan ke kuburan yang berada di belakang SMP N 4 itu. Akhir pengejarannya berakhir di suatu kuburan dimana sang hantu menghilang masuk kedalamnya.

Berikutnya tatkala dia membalikkan badannya mau kembali mendapatkan sepedanya yang dia tinggal cukup jauh, saat itulah dia tidak bisa melangkahkan kakinya lagi, katanya kakinya terasa begitu berat untuk dapat dilangkahkan dan seperti terasa mengalami kelumpuhan. Hal ini bukan disebabkan oleh rasa takutnya, karena dia sama sekali tidak merasa takut, tetapi "mungkin" karena hantu itu yang sedang memegangi dia. Nah..dalam keadaan seperti itu, lantas apalagi yang dia lakukan? mau tidak mau dia harus "ngerangkong" ( tahu ngerangkong..? ) di dalam semak-semak tersebut untuk kembali mendapatkan sepedanya.

Sesampainya di sepedanya, tentu saja dia tidak dapat menaikinya, yang dapat dia lakukan hanyalah seperti seorang anak kecil yang baru belajar naik sepeda laki, yaitu dengan mengepit sadel sepeda dengan ketiak untuk menompang seluruh berat badannya, tanpa dapat dikayuh. Dan dengan segala tenaganya yang masih tersisa, dia berjalan tertatih-tatih mendorong sepedanya tersebut untuk sampai kerumahnya.

Belum lagi sampai ke rumahnya, dari jauh dia sudah berteriak….Ya' Roooooooo ( panggilan akrab untuk istrinya ) , buka pintuuuuu…!!! Tergesa-gesa istrinya buka pintu dan dia segera melabrak pintu yang terbuka tersebut bergulingan masuk kedalam rumah. Dan tatkala dia sudah masuk kedalam rumah, saat itulah semua beban yang mengganduli dirinya menjadi hilang, dan kembali dia dapat berdiri dengan tegak. Istrinya mencecarnya dengan berbagai pertanyaan, tetapi dia diam saja karena dia khawatir istrinya yang jadi ketakutan nantinya.

Dia masih tidak jera nonton bioskop sendirian karena dia bukan tipe orang penakut. Terus dan terus saja nonton sampai akhirnya dia bertobat sendiri nonton bioskop setelah dia menunaikan ibadah haji ke Baitullah…...

Paman

Kenapa Paman Google belum mau memunculkan website kami di halaman awal hasil pencarian sampai hari ini (sudah hampir 1,5 bulan ) tanpa kami ketahui apa sebabnya jadi begitu…?,orang bilang mesti sering dikunjungi… sudah, orang juga bilang mesti sering di isi artikel2nya… sudah, masih ada lagi orang yang bilang mesti banyak nge link ke situs2 ternama …sudah, atau masih kurang banyak lagi..?. Masuk ke penelusuran lanjutan juga tidak ketemu..? Mesti di apakan lagii..? . “Mungkin” Paman Google memandang sebelah mata terhadap kami selaku pendatang baru. Eksistensinya masih diragukan ya Om ..? Kami mengerti anda adalah raja dalam dunia search engine, tapi jangan bertindak seperti itu… tolong perhatikan nasib kami rakyat kecil..?( kesian dech loe..) , kasi kesempatan dong web kami tampil di muka..(narcist dikit getho lho .. he..he)
Baiklah.., kalau Paman cara kerja nya seperti itu .. saya akan mencari paman yang lain yang lebih mengerti perasaan saya. Sambil jalan-jalan saya ketemu dengan seorang paman yang berpenampilan menarik, smart, muda, segar dan ramah. Hello.!! Can I help you..?, sapanya. Wuaaah ini baru Paman. Langsung saya utarakan permasalahan yang saya hadapi dan langsung dia tanggapi. Kami akan memprosesnya dalam waktu tidak lebih dari 7 hari. Betul itu Paman..?? tanyaku tidak percaya. “Trust me”, saya masih muda dan gesit jawabnya bersemangat. Kalau tidak muncul di halaman pertama setelah hari ketujuh, anda jangan menganggap saya sebagai Paman. Anggap saja saya sebagai “ Ki’ Bera’ “ katanya. Kalau begitu saya pegang janji anda ya…..
Hari ketujuh siang saya buka website kami dan…Blaarrrr!!!! Website kami muncul di halaman pertama dan di tempatkan di urutan pertama juga dari hasil pencarian tersebut. Yesss…ini dia baru Paman yang betul-betul mengerti perasaan ponakannya. Saking senangnya sampai saya angkat-angkat anda disini. Saking senangnya juga, saya sampai lupa memberitahukan kepada anda semuanya siapa sebenarnya nama Pamanku yang baru ini yang begitu smart, ramah, muda, tanggap dan gesit ini .
Mau tahu siapa namanya…??? Ee ..eee Tapi nanti dulu ya, saya mau ngucapin terima kasih dulu buat Pamanku yang tersayang ini. Teng kiu peri peri mac Uncle, anda telah bersedia membantu kami muncul secara cepat di halaman pertama hasil pencarian. Saya tidak dapat membantu anda secara materi, maklumlah saya hanya seorang “Oemar Bakrie” yang tak punya banyak materi. Hanya itulah yang dapat saya berikan..once again..Teng kiu peri peri mac Uncle…, oh ya ada satu lagi yang dapat saya berikan buat anda, saya akan hijrah mendekati anda mulai sekarang dan memeluk anda sambil memberikan kepada anda cipika cipiki………muaaacccchhh……mua
ccchhhhhhh…….
Ngalor ngidul lupa lagi ingin beritahukan kepada anda siapa sebenarnya nama Pamanku yang baru ini..Ee..eee tapi nanti dulu ya, jangan anda ikut-ikutan beralih ke Pamanku ini ya…, jangan-jangan Pamanku ini hanya baik kepadaku saja, tidak kepada anda, jadi pertimbangkanlah dan pelajarilah sendiri-sendiri dengan baik dan matang. Saya khawatir nanti anda akan mencaci maki saya dengan segala macam sebutan gara-gara hal ini. …
Langsung saja ke pokok persoalan kita tadi yaitu nama Pamanku ini………..Ee..eee tapi tunggu dulu, masih ada lagi yang kelupaan …, buat anak-anak SMP Negeri 2 Tanjungpandan khususnya dan masyarakat pada umumnya yang ingin menemukan secara cepat website kita, maka Pamanku yang baru inilah sebagai alternatif utamanya, selebihnya mungkin hanya sebagai pilihan kedua…, karena begitu kita mengetikkan kalimat “smp negeri 2 tanjungpandan”, Pamanku ini akan langsung memunculkan web kita no 1 di hasil pencariannya. Entahlah nanti kalau Paman Google juga ikut memunculkan website kita, apakah juga tetap no 1 seperti Pamanku ini..??, karena selama ini yang terjadi adalah kalau kita mengetikkan kalimat diatas yang muncul sebagai hasil pencarian no 1 nya adalah sman2-tp.sch.id ( SMA Neg. 2 Tanjungpandan). Mungkinkah Paman Google sudah tua dan linglung, bahwa yang saya ketikkan tidak sesuai dengan hasil pencarian yang didapatkan ?? maafkan aku Paman Tua….
Nah..nah…nah…sudah lupa lagi saya ingin memberitahukan nama Pamanku yang baru ini , jangan-jangan sayapun juga sudah mulai linglung seperti Paman Google.Betul saja…sudah sekitar 10 menit saya duduk di depan komputer ini tanpa mengetik sesuatu apapun dan mencoba mengingat-ingat siapa nama Pamanku yang baru ini. OMG !!!, saya betul-betul lupa...Gawwwaaaatttt, jangan-jangan ini gara-gara ngata-ngatain Paman Tua tadi jadi kualat….!!! Jadi…… untuk sementara waktu ini (mohon maaf…) kita tunda dululah memikirkan siapa sebenarnya nama Pamanku yang baru itu sampai saya ingat kembali nantinya.
Penasaran…?? Saya lebih penasaran lagi………….!!!

Kepribadian Manusia dari Status Facebook

Artikel ini saya ambil dari Ketawa.com
Category : Komputer dan Teknologi

1. Manusia Super Update
Kapanpun dan di manapun selalu update status. Statusnya tidak terlalu panjang tapi terlihat bikin risih, karena hal-hal yang tidak terlalu penting juga dipublikasikan.
Contoh : "Lagi makan di restoran A..", "Dalam perjalanan menujuneraka..", "Saatnya baca koran..", dan sebagainya.

2. Manusia Melankolis
Biasanya selalu curhat di status. Entah karena ingin banyak diberi komentar dari teman-temannya atau hanya sekedar menuangkan unek-uneknya ke facebook. Biasanya orang tipe ini menceritakan kisahnya dan terkadang menanyakan solusi yang terbaik kepada yang lain.
Contoh : "Kamu sakitin aku..lebih baik aku cari yang lain..", "Cuma kamu yang terbaik buat aku..terima kasih kamu sudah sayang ama aku selama ini..".

3. Manusia Tukang Ngeluh
Pagi, siang, malem, semuanya selalu ada aja yang dikeluhkan.
Contoh : " Jakarta maceeet..!! Panas pula..", "Aaaargh ujan, padahal baru nyuci mobil..sialan. .!!", "Males ngapa2in.. cape hati gara2 si do' i..", dsb.

4. Manusia Sombong
Mungkin beberapa dari mereka ga berniat menyombongkan diri, tapi terkadang orang yang melihatnya, yang notabene tidak bisa seberuntung dia, merasa kalo statusnya itu kelewat sombong, dan malah bikin sebel.
Contoh : "Otw ke Paris ..!!", "BMW ku sayang, saatnya kamu mandi..aku mandiin ya sayang..", "Duh, murah-murah banget belanja di Singapur, bow,"

5. Manusia Puitis
Dari judulnya udah jelas. Status nya selalu diisi dengan kata-kata mutiara, tapi ga jelas apa maksudnya. Bikin kita terharu? Bikin kita sadar atas pesan tersembunyinya? atau cuma sekedar memancing komentar? Sampai saat ini, tipe orang seperti ini masih dipertanyakan.
Contoh : "Kita masing-masing adalah malaikat bersayap satu. Dan hanya bisa terbang bila saling berpelukan", "Mencintai dan dicintai adalah seperti merasakan sinar matahari dari kedua sisi", "Jika kau hidup sampai seratus tahun, aku ingin hidup seratus tahun kurang sehari, agar aku tidak pernah hidup tanpamu".

6. Manusia in English
Tipe manusianya bisa seperti apa saja, apakah melankolis, puitis, sombong dan sebagainya. Tapi dia berusaha lebih keren dengan mengatakannya dalam bahasa Inggwis gicyu Low..
Contoh : "Tie and Chair..", "I can tooth, you Pink sun.." dsb..

7. Manusia Lebay
Updatenya selalu bertema 'gaul' dengan menggunakan bahasa dewa.. ejaan yang dilebaykan..
Contoh.." met moulnin all.. pagiiieh yg cewrah... xixiixi" << lol~

8. Manusia Terobsesi
Mengharap tapi ga kesampaian.. pengen jd artis ga dapat-dapat.
Contoh : "duwh... sesi pemotretan lagi! cape..."

9. Manusia Sok Tau
Sotoy tenarnya. Padahal dia sendiri tidak tahu apa yang ditulisnya.
Contoh : "Pemerintah selalu memanjakan rakyatnya.. bla..bla...bla,"

10. Bioskop Mania
Update film yang abis ditonton dan kasih comment..
Contoh : "ICE AGE 3..Recomended! !", "Transformers 2 mantab euy.."

11. Manusia pedagang
Contoh: "jual sepatu bla bla bla"

12. Manusia penyuluh masyarakat
Contoh: "jangan lupa dateng ke TPS, 5 menit utk 5 tahun bla..bla"

13. Manusia Alay
Ada berbagai macam versi, dari tulisannya yang aneh, atau tulisannya biasa aja, hanya saja kosakata nya ga lazim seperti bahasa alien.
Contoh:Alay 1 : "DucH Gw4 5aYan9 b6t s4ma Lo..7aNgaN tin69aL!n akYu ya B3!bh..!!"
Alay 2 : "km mugh kog gag pernach ngabwarin aq lagee seech? kmuw maseeh saiangs sama aq gag seech sebenernywa? "
Alay 3 : "Ouh mY 9oD..!! kYknY4w c gW k3ReNz 48ee5h d3ch..!!"(Khusus buat tipe ini, ga usah di baca juga gpp..saya pribadi juga mikirdulu buat nulis ini, walaupun jadinya kurang mirip sama yg aslinya..)

14. Tipe Hidden Message
Tipe ini biasanya tidak to the point, tapi tentunya punya niat biar orang yg dituju membaca nya. (bagus kalo baca..kalo ngga? kelamaan nunggu) padahal kan bisa langsung aja sms ya..
Contoh : "For you my M***, I can' t live without you..you are my bla bla bla..","Heh, cewe bajingan..ngapain lo deket2in co gw?! kyk ga laku aja lo.." (padahal ce tersebut tidak ada dalam jaringannya. . mana bisa baca...:p)

15. Tipe Misterius
Tipe yang biasanya bikin banyak orang bertanya tanya atas apa maksud dari status orang tersebut..Biasanya dalam suatu kalimat membutuhkanSubjek + Predikat + Objek + Keterangan. Tapi orang tipe ini mungkinhanya mengambil beberapa atau malah hanya 1 saja..Dan pastinyamengundang kontroversi.
Contoh : "Sudahlah.." , "Telah berakhir.." (apanya??),"Termenung.. ." (so what gitu, loh)

Kalian ngikut yang mana???
Sumber : http://ketawa.com/humor-lucu/det/6269/kepribadian_manusia_dari_status_facebook.html