Bayangan, tandanya..
Ketololan itu ternyata bertingkat-tingkat,. Ada orang yang tololnya sedang-sedang saja, ada juga yang kelewatan. Barangkali Ben Khalaf termasuk golongan yang kelewatan itu. Pada suatu hari Ben Khalaf mencari-cari sesuatu di padang pasir. Ketika ditanya sedang apa, dia menjawab," Sedang mencari sesuatu yang saya tanam sekitar sini."
"Apa tidak kau beri tanda?"
"Sudah. Dulu kutanam persis di bagian yang terkena bayangan mendung, sekarang kok bayangannya tidak ada." (Canda Nabi & Tawa Sufi : A. Mustofa Bisri)
Satu per seribu tetes ilmu saja sudah begitu banyak yang harus kita pelajari dan juga begitu sulit untuk digapai, apalagi kalau kita kita ingin mendapatkan setetesnya.
Selasa, November 17, 2009
Senyum sesudah berbuka puasa
Kita berdua masuk surga
Seorang lelaki yang pendek dan buruk rupanya duduk-duduk bersama istrinya yang sangat cantik. si lelaki tak berkedip memandang wajah istrinya yang cantik jelita. Agak tersipu-sipu, sang istripun berkata, "Kau ini kenapa sih, kok dari tadi memandangiku saja?".
Kulihat wajahmu," jawab si suami, " setiap hari kok semakin cantik saja.Maka setiap kali aku melihatmu, semakin bertambah syukurku."
"Ya," kata si istri," dan kita berdua nanti akan masuk surga."
"Lho, darimana kau tahu?"
"Bukankah hamba yang bersyukur dan hamba yang bersabar akan masuk surga. Kau bersyukur karena mendapat anugerah istri seperti aku. Sedangkan aku bersabar mendapat cobaan berupa suami seperti kau." ( A.Mustofa Bisri : Canda Nabi & Tawa Sufi ).
Seorang lelaki yang pendek dan buruk rupanya duduk-duduk bersama istrinya yang sangat cantik. si lelaki tak berkedip memandang wajah istrinya yang cantik jelita. Agak tersipu-sipu, sang istripun berkata, "Kau ini kenapa sih, kok dari tadi memandangiku saja?".
Kulihat wajahmu," jawab si suami, " setiap hari kok semakin cantik saja.Maka setiap kali aku melihatmu, semakin bertambah syukurku."
"Ya," kata si istri," dan kita berdua nanti akan masuk surga."
"Lho, darimana kau tahu?"
"Bukankah hamba yang bersyukur dan hamba yang bersabar akan masuk surga. Kau bersyukur karena mendapat anugerah istri seperti aku. Sedangkan aku bersabar mendapat cobaan berupa suami seperti kau." ( A.Mustofa Bisri : Canda Nabi & Tawa Sufi ).
Fitrah 190909
Terkadang mulut salah berucap. Terkadang hati salah menduga. Terkadang tulisan menorehkan luka bahkan membawa bencana. Terkadang mimik dan gerak mengekspresikan ketidak-senangan dan pelecehan.
Untuk itu saya pikir ....
Tidak ada salahnya kalau kita berjabat tangan secara virtual. Tidak ada salahnya bila kita merapatkan raga lewat dunia maya. Tidak ada salahnya bila titik-titik air mata kerinduan, kebahagiaan, ketulusan pengakuan ketidak-luputan dari khilaf, salah dan dosa, yang bergumul, berkecamuk dan terakumulasi menjadi satu menyesakkan rongga dada, menyulut dan meledakkan isak tangis , melontarkan dan melambungkan kita ke sebuah tempat yang tinggi dan ruangan yang luas, lega dan penuh dengan cahaya putih bersih, cahaya kefitrahan kukirimkan dengan cara seperti ini.
Mohon maaf lahir dan bathin.
Selamat hari raya Idul Fitri 1430H.
Untuk itu saya pikir ....
Tidak ada salahnya kalau kita berjabat tangan secara virtual. Tidak ada salahnya bila kita merapatkan raga lewat dunia maya. Tidak ada salahnya bila titik-titik air mata kerinduan, kebahagiaan, ketulusan pengakuan ketidak-luputan dari khilaf, salah dan dosa, yang bergumul, berkecamuk dan terakumulasi menjadi satu menyesakkan rongga dada, menyulut dan meledakkan isak tangis , melontarkan dan melambungkan kita ke sebuah tempat yang tinggi dan ruangan yang luas, lega dan penuh dengan cahaya putih bersih, cahaya kefitrahan kukirimkan dengan cara seperti ini.
Mohon maaf lahir dan bathin.
Selamat hari raya Idul Fitri 1430H.
Gempa
Beberapa hari yang lalu kita telah melihat begitu dahsyat gempa yang terjadi di kota Padang. Dua buah stasiun tv meliputnya secara langsung. Akan tetapi saya pikir dua stasiun tv saja tidak cukup untuk mengcover seluruh area gempa yang begitu luas. Mereka (2 stasiun tv tersebut) hanya mengcover sebagian kecil dari area gempa. Alangkah baiknya semua stasiun tv di negeri ini turun dan ikut mengcover semuanya secara langsung juga kejadian dahsyat tersebut, sehingga kemungkinan ada keluarga korban yang dapat melihat saudara-saudara mereka yang terluka bahkan meninggal di tempat yang lain selain dari tempat-tempat yang sudah dicover oleh kedua stasiun tv tadi. Jadi kalau dapat sebaiknya mereka (stasiun-stasiun tv yang lain) menjadwal ulang acara-acara yang tidak begitu penting seperti sinetron dan acara-acara hiburan lainnya. Masak dua stasiun tv menyiarkan bencana kemanusiaan yang begitu mengenaskan, sementara stasiun-stasiun tv yang lain ber haha hihi. Keterlaluan....
Teman
Minggu kemarin tepatnya tanggal 04 Oktober 2009 saya menghadiri undangan di rumah saudara sepupu yang menikahkan anaknya yang kedua. Ada kejutan yang saya temui disini, bukan mengenai perayaan pernikahannya, tapi saya menemukan dua orang teman saya di SD dulunya. Satunya masih dapat saya kenali, tapi yang satunya tidak dapat saya kenali lagi kalau dia sendiri tidak menyebutkan namanya waktu itu. Dia sudah menyebutkan namanyapun saya masih harus berpikir beberapa detik untuk kembali membongkar memory yang sudah tertumpuk selama ± 38 tahun yang lalu, dan itu bukan waktu yang singkat tentunya karena selama ini kami tidak pernah bertemu sama sekali
Akhirnya saya dapat tersenyum dan meneteskan airmata bahagia karena dapat kembali merekonstruksi ingatan mengenai wajah teman saya ini. Saya mengelus dan menepuk-nepuk pundaknya berkali-kali dan memandangi wajahnya sambil bergumam dalam hati seakan tidak percaya dengan penglihatan saya sendiri ,”kok sudah seperti ini ya wajahnya, tua dan dengan air muka yang menggambarkan kerasnya perjuangan hidup”. Saya pikir dia juga dalam hatinya akan sama seperti apa yang sedang saya pikirkan.
Seperti layaknya kalau sedang ketemu dengan sahabat yang sudah lama sekali tidak berjumpa, kami saling bercerita apa saja dari A sampai Z sambil diselingi dengan tersenyum, tertawa terpingkal-pingkal, sedih (ketika kita bercerita mengenai teman kita yang sudah tiada), ya…pokoknya segala macam dech.
Pertemuan sekitar 1 jam memang terasa begitu singkat untuk saling menuangkan pengalaman hidup selama ± 38 tahun tidak berjumpa. Kami harus berpisah dan kembali menjalani rutinitas kehidupan pribadi masing-masing, sampai suatu ketika insya Allah mungkin kita akan berjumpa kembali….See you my friends.
Akhirnya saya dapat tersenyum dan meneteskan airmata bahagia karena dapat kembali merekonstruksi ingatan mengenai wajah teman saya ini. Saya mengelus dan menepuk-nepuk pundaknya berkali-kali dan memandangi wajahnya sambil bergumam dalam hati seakan tidak percaya dengan penglihatan saya sendiri ,”kok sudah seperti ini ya wajahnya, tua dan dengan air muka yang menggambarkan kerasnya perjuangan hidup”. Saya pikir dia juga dalam hatinya akan sama seperti apa yang sedang saya pikirkan.
Seperti layaknya kalau sedang ketemu dengan sahabat yang sudah lama sekali tidak berjumpa, kami saling bercerita apa saja dari A sampai Z sambil diselingi dengan tersenyum, tertawa terpingkal-pingkal, sedih (ketika kita bercerita mengenai teman kita yang sudah tiada), ya…pokoknya segala macam dech.
Pertemuan sekitar 1 jam memang terasa begitu singkat untuk saling menuangkan pengalaman hidup selama ± 38 tahun tidak berjumpa. Kami harus berpisah dan kembali menjalani rutinitas kehidupan pribadi masing-masing, sampai suatu ketika insya Allah mungkin kita akan berjumpa kembali….See you my friends.
Diam atau bicara
Memang diam dan bicara ada pada tempatnya masing-masing. Diam pada saat harus bicara, mungkin sama buruknya dengan bicara pada saat harus diam. Sebaliknya kita memang harus tahu kapan kita mesti diam dan kapan mesti bicara. Kalau tidak, salah-salah bisa celaka. Antara lain karena kita diam pada saat mestinya harus bicara,maka kemungkaran pun terus berlangsung di negeri ini bertahun-tahun dan mengakibatkan kerusakan negeri yang begini parah. Namun sebaliknya, seringkali diam justru jauh lebih bermanfaat ketimbang bicara. Bahkan tidak jarang bicara justru menimbulkan bencana, tidak hanya bagi orang yang bersangkutan, tapi juga kepada orang-orang lain. Perkelahian bahkan peperangan bisa terjadi akibat omongan yang salah. Nah..jadi....??
Senin, Oktober 19, 2009
Telepon
Ada dua telepon tua merk "Ericsson"peninggalan jaman Belanda di rumahku Telepon ini kudapat dari warisan orangtua ku yang pensiunan PT Timah. Bapak dulu kerja di bagian telepon .Ceritanya bila kita ingin menelpon ke seseorang atau ke suatu tempat maka kita akan memutar engkolnya tapi gagang teleponnya belum boleh di angkat. Setelah lima atau enam kali putaran engkolnya, baru kemudian kita mengangkat gagang teleponnya dan hallooo...wesselbor.. tolong sambungkan saya dengan si Anu...,kemudian operator wesselbor menyambungkan kita dengan seseorang dan beberapa saat kemudian terdengarlah sahutan dari orang yang ingin kita tuju tersebut.Tapi terkadang kita tidak dapat disambungkan dengan orang yang kita tuju tersebut karena line sedang penuh. Maklum line yang menuju ke tempat yang jauh (mis.ke Tanjungpandan hanya ada 3). Jadi kita harus menunggu orang lain selesai menelepon. Bila jarak orang yang kita tuju itu cukup jauh, maka kita akan banyak sekali mendengar noise ketimbang suara orang yang kita tuju tersebut, kita harus sedikit berteriak untuk mengatasi noise tersebut. Al hasil, semua orang tahu apa yang sedang kita bicarakan dengan orang tersebut.
Karena rumah kami dekat dengan kantor lurah,maka hampir setiap hari kami diminta manggil pak Lurah karena ada panggilan telepon buatnya (saat itu kantor Lurah belum ada teleponnya), terkadang bosan juga.
Walau orangtuaku tergolong pegawai rendahan PT Timah, tetapi kami sudah punya pesawat telepon sekitar tahun 1964 sampai akhir masa pensiun Bapak sekitar tahun 1988. Tugas Bapak ku cukup berat, mandor merangkap memelihara jaringan telepon. Jadi terkadang dia harus tugas malam-malam karena ada tiang telepon yang rebah atau kawat telepon yang putus demi menjaga komunikasi tetap lancar.
Beda benar ya dengan sekarang....
Karena rumah kami dekat dengan kantor lurah,maka hampir setiap hari kami diminta manggil pak Lurah karena ada panggilan telepon buatnya (saat itu kantor Lurah belum ada teleponnya), terkadang bosan juga.
Walau orangtuaku tergolong pegawai rendahan PT Timah, tetapi kami sudah punya pesawat telepon sekitar tahun 1964 sampai akhir masa pensiun Bapak sekitar tahun 1988. Tugas Bapak ku cukup berat, mandor merangkap memelihara jaringan telepon. Jadi terkadang dia harus tugas malam-malam karena ada tiang telepon yang rebah atau kawat telepon yang putus demi menjaga komunikasi tetap lancar.
Beda benar ya dengan sekarang....
Langganan:
Postingan (Atom)